Jika kita pandai bersyukur. Masih adakah orang yang dikatakan miskin.

Jika kita pandai bersyukur. Masih adakah orang yang dikatakan miskin.

Sahabat ! Sejak kecil, sejak duduk di bangku sekolah dasar bahkan sejak masih dalam buaian. Kita selalu diajarkan bagaimana agar kita menjadi manusia yang serba kekurangan. Mental kita terus dipaksa tekankan agar kita menolak maha rahasia Tuhan yang menciptakan kita sebagai makhluk yang sempurna (karena kekurangan).

Satu mantra yang merusak mental itu terangkum dalam satu istilah saja. Yaitu “miskin”.

Sewatku dalam buaian, orangtua orang tua kita selalu melafalkan mantra itu ke telinga kita sembari menyusui dan menimang kita. Sewaktu duduk di bangku sekolahan guru guru kita melalui system pendidikan yang telah ditentukan, mental kita diarahkan menjadi manusia pesakitan. Begitu juga ketika kita telah dewasa menjadi manusia. Lingkungan lingkungan kita seolah mejawab dan merealisasikan mantra mantra itu. Maka hiduplah kita sebagai manusia yang tidak pandai bersyukur atas apa yang tuhan berikan kepada kita.

BPJS atau Beasiswa untuk siswa dan mahasiswa miskin bagi saya adalah salah satu bentuk penghinaan. Bukan sobbing dan merasa menjadi orang yang serba punya dan beradada. Tapi di pikir saya, hal hal semacam itulah yang akan mendidik mental kita untuk terus menjadi orang yang serba tak mampu. Mengapa harus kita terus terusan memiliki mental buruk yang serba tak mampu?

Saya kadang bertanya.
Jika kita pandai bersyukur. Masih adakah orang yang dikatakan miskin