FROFILE CAK NUN : Budayawan besar yang pernah hidup menggelandang

FROFILE CAK NUN : Budayawan besar yang pernah hidup menggelandang

Ribuan orang datang memadati paggung di ruang terbuka: Meluber ke jalan, jalan memadati hampir seluruh ruag yang tersisa.Bahkan di beberapa titik, dipasangkan layar lebar untuk menayangkan secara langsung kajiannya.

Di rumah rumah penduduk, layar televsi akan dipasangkan kabel ke panggung untuk memudahkan para jamaah, yang tidak ingin berdesak-desakkan. Ratusan pedagang kaki lima menggelar dagangannya di gang-gang sempit. Suasana itu seperti sebuah pepertunjukan konser rakyat yang meriah.

Ya dialah budayawan besar yang dimiliki Indonesia.

PROFILE SINGKAT

Emha Ainun Najib atau yang lebih akrab disapa dengan Caknun, lahir di jombang, jawa timur pada 27 mei 1953. Ia merupakan anak ke empat dari 15 besaudara. Setamat SD, ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Gontor selama dua setengah tahun. Kemudian hijrah ke Yogyakarta, menamatkan SMA dan melajutkan pendidikannya di Universitas Gajah Mada faultas ekonomi (Tidak tamat). Ia tidak betah menjalani pendidikan formal dan memlih Malioboro sebagai Unibersitas terbuka dengan bergabung dengan PSK (Persada Studi Klub)

Kekaryaan: Dari jalanan menuju rumah Tuhan

Kepenyairan Emha Ainun Najib yang panjang telah membuktikan bagaimana ia sangat produktif melahirkan karya karya. Tercatat dalam periode 1970 awal hingga 1990 akhir, ia telah menerbitkan belasan antologi puisi. Beberapa diantaranya, sajak sajak sepanjang jalan (1997), tuhan aku berguru padamu (1980), Kanvas (1980), tidur yang panjang, nyayian gelandangan (1982), dan lain lain.

Sebagai penulis esai, barangkali tak ada yang bisa menyamai produktifitas Emha Ainun Najib. Analisisnya yang cerdas, gaya bertuturnya yang khas, serta daya humornya yang tinggi, telah melahirkan sebuah ciri tersendiri bagi esai-esainya.

Ia menulis hampir seluruh persoalan kehidupan. Mulai dari persoalan social, politik, kebudayaan, hingga agama degan pendekatan personal yang akrab dan segar.

Setidaknya ada sekitar 30 buku esai yang pernah ditulis, beberapa diantaranya dari pojok sejarah 1985,Secangkir Kopi Jon Parkir (1990), Markesot bertutur (1993), Markesot bertutur lagi (1994), dan lain lain.

Disamping menulis puisi dan esay, Emha Ainun Najib juga membidangi beberapa reportoar dan pementasan teater. Bersama Teater Dinasti yang ia dirakan, ia mementaskan drama, diantaranya  : Geger wong ngoyak macan (1989), tentang pemerintahan raja soeharto; patung kekasih (1989), dan lain lain.

Emha Ainun Najib adalah figure yang lengkap. Akhirnya ia tidak hanya di kenal sebagai penyair, akan tetapi juga sebagai seorang kiyai , budayawan, esais, sastrwan, penulis naskah drama, penulis cerpen, pemusik, dan penamaan-penamaan lain yang merujuk pada identitasnya yang multi talenta.

Meski demikian, ketawadduan seorang Emha Ainun Najib yang egaliter itu, selalu mendeklarasikan dirinya dengan menyebutt “Aku Bukan Siapa Siapa”. Tapi bukti karya dan gerakannya selama hampir 30 tahun telah melahirkan sebuah revolusi diam-diam.

(more…)