Jika diizinkan, Aisy ingin menakhodai perahunya sendiri ke samudra itu. Tapi usianya masih belia. Dan langit yang tergelar di atasnya itu tidak peduli Ia keturunan siapa. Langit itu akan membingungkan siapa saja yang tak bersahabat dengannya. Terlebih lagi bila Dzulhijjah tiba. Samudra Hindia ini berbeda dengan samudra yang menggulung Yunus ke perut ikan. Belajar membaca arah angin kadang lebih didengarkan ALLOH dari pada nekat memasrahkan keadaan.

“tetapi Bu” hardik Aisy tak berterima.

“Aisy kekasih ayah dan Ibu. Teruslah sisir rambutmu yang ikal. Sementara menunggu habis perkalian demi perkalian. Sabarlah membentangkan buku bukumu sehabis makan dan shalat malam” Kata ibu kepada Aisy, sembari mebenamkan mantra ke ubunnya

2019/