Pagi pada bulan april itu, sayup-sayup kudengar seseorang memutar gugur bunga dari arah tenggara kota santri. Menyimak gugur bunga yang sayup sayup itu, bukannya mebuatku mengingat Kartini, Cut Mutia, dan perempuan-perempuan perkasa lainnya. Tetapi menyimak sayup-sayup gugur bunga itu adalah menyimakmu dalam setiap episode lajangku.
Lantas bagaimana hatiku tak pilu Dyana? Bagaimana tidak? Kadang-kadang baru aku sadar, menjadi seorang teman yang kau istilahkan sebagai ahli hati kemudian kau tinggalkan, seperti menjadi perahu tanpa nakhoda yang terombang di samudra. Sementara perahu itu haruslah pulang ke tepian dermaga.
Sedari awal padahal; aku tau, engkaupun tau, bahwa usia dan perjalanan kita fana. Senyummu dan rayuanku fana, bayanganmu dan puisiku juga adalah sesuatu yang fana. Dan kepergianmu pada hari yang itu , Dayana ! Adalah tanda-tanda niscaya yang juga fana pada akhirnya. Tentu aku tidak peduli orang-orang akan menuduh cara hidup yang begini ribet, ruwet dan semerawut. Karena yang aku lebih peduli adalah, engkaulah anjani yang dihadiahkan ilahi pada seorang petapa yang lama menanti.
Oh bungaku

Kembalilah pada episode yang biru