Ia berjalan ke tepian petang yang dingin. Aku melihat lambaian punggungnya yang perlahan gelap. “Dik” lirihku tak didengarkan.

Perempuan berkacamata bening itu, terus berjalan. Di sisa sisa hujan. Langkahnya mantap tanpa menyisakan beban. Atau kenangan kepada siapapun. Ia juga kubur di jejak jejak belakang harapnya yang malang.

Petang semakin tua. Tak ada bias jawaban yang kudengar menyahut. Aku lirihkan panggilan sekali lagi. “Dik” lirihku yang itu, masih tak didengarkan

2019/