Kembalilah pada episode yang biru

Pagi pada bulan april itu, sayup-sayup kudengar seseorang memutar gugur bunga dari arah tenggara kota santri. Menyimak gugur bunga yang sayup sayup itu, bukannya mebuatku mengingat Kartini, Cut Mutia, dan perempuan-perempuan perkasa lainnya. Tetapi menyimak sayup-sayup gugur bunga itu adalah menyimakmu dalam setiap episode lajangku.
Lantas bagaimana hatiku tak pilu Dyana? Bagaimana tidak? Kadang-kadang baru aku sadar, menjadi seorang teman yang kau istilahkan sebagai ahli hati kemudian kau tinggalkan, seperti menjadi perahu tanpa nakhoda yang terombang di samudra. Sementara perahu itu haruslah pulang ke tepian dermaga.
Sedari awal padahal; aku tau, engkaupun tau, bahwa usia dan perjalanan kita fana. Senyummu dan rayuanku fana, bayanganmu dan puisiku juga adalah sesuatu yang fana. Dan kepergianmu pada hari yang itu , Dayana ! Adalah tanda-tanda niscaya yang juga fana pada akhirnya. Tentu aku tidak peduli orang-orang akan menuduh cara hidup yang begini ribet, ruwet dan semerawut. Karena yang aku lebih peduli adalah, engkaulah anjani yang dihadiahkan ilahi pada seorang petapa yang lama menanti.
Oh bungaku

Kembalilah pada episode yang biru

dik, benarkah sedalam itu?

dik beberapa waktu lalu aku berkisah kepada sahabatku bagaimana dulu kau pergi; berlalu dengan cara membelakangiku

waktu itu gemericik gerimis rintik-rintik. di pojok kampus hijau itu, ia menyimak kisahmu dengan seksama, dengan merah, dengan sesal menyesak; tak percaya

kami melewati satu mata kuliah lantaran kisah tentantangmu tak habis-habisnya kami cakapkan..

dia katakan; kamu dik, tak tak akan kemana-mana !
tetapi aku katakan. ini realitanya !

dik, gemericik gerimis itu telah berubah hujan. rumput-rumput di halaman kampus itupun basah kegirangan. parahnya, sewaktu aku sebutkan nama panjangmu, ia melihat bekas punggungmu di kepalaku

dik, benarkah sedalam itu?

Puisi Bahasa Para Malaikat

Jjika yang disebut cinta itu
Adalah bahasa para malaikat, maka
Nyalakan hasratmu
Nyatakan dengan perasaan yang halus dan perlahan
Antarkan ia pada segala yang tak wujud
Tanpa peduli orang orang akan menilai
Untuk apa kau suka bercakap cakap sendiri di hadapan cermin itu

Ada yang akan memerhatikanmu dibelakang hari
Diam diam, juga akan menuliskan puisi
Nyalakan sekali lagi hasratmu, jangan kau tutup lagi
Ikutilah setiap degup yang dilahirkan hasrat itu, sampai kau yakin
Nama indah yang selalu di sebut sebutkan itu adalah namamu

20 SAJAK TASAWUF Maulana Jalaluddin Rumi

20 SAJAK TASAWUF Maulana Jalaluddin Rumi

1
Sssttt! Diamlah! Dengarkan suara dalam dirimu. Ingatlah
firman pertama-Nya: “Kita melampaui setiap kata.”

2
Di dalam cahaya-Mu aku belajar mencintai. Di dalam
keindahan-Mu aku belajar menulis puisi. Kau senantiasa
menari di dalam hatiku, meski tak seorang pun melihat-
Mu, dan terkadang aku pun ikut menari bersama-Mu.
Dan “Penglihatan Agung” inilah yang menjadi inti dari
seniku.

3
Hakikat Yang Maha Pengasih hadir secara langsung
laksana sinar matahari yang menerangi bumi. Namun,
kasih-Nya tidaklah berasal dari berbagai bentuk yang ada
di bumi. Kasih-Nya melampaui setiap bentuk yang ada di
bumi, sebab bumi ini dan segala isinya tercipta sebagai
perwujudan dari kasih-Nya.

4
Jika kau ingin melihat wajah-Nya, maka tengoklah pada
wajah sahabatmu tercinta.

5
Sekian lama aku berteriak memanggil nama-Mu sambil
terus-menerus mengetuk pintu rumah-Mu. Ketika pintu
itu terbuka, aku pun terhenyak dan mulai menyadari
sesungguhnya selama ini aku telah mengetuk pintu dari
dalam rumahku sendiri.

6
Demi Allah, ketika kau melihat Jatidirimu sebagai Yang
Maha Indah, maka kau pun akan menjadi menyembah dirimu
sendiri

7
Karena Cinta segalanya menjadi ada. Dan hanya karena
Cinta pula, maka ketiadaan nampak sebagai keberadaan.

8
Pada Hari Kebangkitan, orang-orang akan berjalan
sempoyongan. Di depan-Mu, mereka akan menggigil
dengan wajah pucat karena ketakutan. Maka, aku akan
memeluk kasih-Mu dan berkata kepada mereka: “Mintalah
apa pun; mintalah atas namaku.”

9
Aku ingin melihat wajah-Mu pada sebatang pohon, pada
matahari pagi, dan pada langit yang tanpa warna.

10
Ketika aku mati sebagai manusia, maka para malaikat
akan datang dan mengajakku terbang ke langit tertinggi.
Dan ketika aku mati sebagai malaikat, maka siapa yang
akan mendatangiku? Kau tak akan pernah dapat
membayangkannya!

11
Diamlah! Cinta adalah sebutir permata yang tak bisa
kaulemparkan sembarangan seperti sebutir batu.

12
“Mintalah sesuatu kepada-Ku,” begitu Kau berkata suatu
ketika. Aku tertawa dan berkata: “Aku telah cukup
bersama-Mu. Tanpa kehadiran-Mu, seluruh dunia ini
hanyalah sebatang kayu yang mengapung dan
terombang-ambing di samudera-Mu.”

13
Yakinlah, di Jalan-Cinta itu: Tuhan akan selalu bersama-Mu.

14
Sufi adalah seorang lelaki atau seorang perempuan yang
Telah patah hati terhadap dunia.

15
Segalanya yang kau lihat mempunyai akarnya di dalam
dunia yang tak terlihat. Bentuk akan berubah, namun
intisarinya tetaplah sama.

16
Ketika sedih, aku bersinar bagaikan bintang pagi. Ketika
patah hati, hakekatku justru tersingkap sendiri. Ketika aku
diam dan tenang seperti bumi, tangisku bagaikan guntur
yang menggigilkan surga di langit tertinggi.

17
Aku tidak tahu siapa sebenarnya “Aku”. Tetapi, ketika
aku berjalan ke dalam diriku sendiri, maka aku pun
terkejut: ternyata “Aku” adalah suara milik-Mu, gema
yang terpantul dari “Dinding-Keilahian”.

18
Setiap orang yang tinggal jauh dari sumber-Nya, dari
Jatidirinya, maka ia akan selalu rindu untuk kembali ke
masa ketika ia masih dipersatukan dengan-Nya.

19
Ketika kami mati, jangan cari pusara kami di bumi. Tetapi,
temukan di dalam hati para pecinta.

20
Kematianku adalah perkawinanku dengan keabadian.

Kupanggil panggil dirimu sayang

Waktu terus berjalan mencari dimana kamu

Kupanggil pangil dirimu, sayang

Di keheningan malam

Kenangku dibaluri

Rindu ..

 

Sebatas mimpi buruk

Kutemui dipersimpangan

Hilang hilanglah Sudah

lukaku

jangan engkau lari

memunggungi mataku

sebab rindu itu membiru

merobek robek

gaunmu

 

Ramadhan Datang, Kekasih Aku pulang | Puisi (Sufi) Isak Harry

Ramadhan Datang, Kekasih Aku pulang | Puisi (Sufi) Isak Harry

Kepergianku meninggalkanmu beberapa waktu lalu, bukan lantaran aku tak percaya terhadapMu, kekasih. Tetapi, karena setiap pertemuan yang kita ciptakan. Tak pernah membuat dadaku bergetar seperti orang orang ketika bertemu kekasihnya. Aku menjauh meninggalkanmu. Melupakan rumah.Melupakan sejarah. Melupakan Engkau. Melupakan kenangan kenangan yang pernah kita tuliskan sepanjang pertemuan. Muharam perjalananku semakin menjauh kekasih. Aku ingat, beberapa kali aku berjanji menemuimu pada suatu dini yang sepi. Tapi sebab keragu-raguan dalam dadaku. Aku berkhianat begitu saja. Kurapikan bantal. Kutarik selimutku pelan-pelan. Sya’ban akan berlalu, kekasih. Aku merasa. Perjalananku yang teramat jauh ini, tak menemukan apa-apa. Kesana kemari aku mencari kecintaan kecintaan yang lain. Selalu kosong. Dan tidak menemukan apa-apa. Ramadhan sebentar datang. Kekasih; Aku pulang _ Isak Harry