1
Sssttt! Diamlah! Dengarkan suara dalam dirimu. Ingatlah
firman pertama-Nya: “Kita melampaui setiap kata.”

2
Di dalam cahaya-Mu aku belajar mencintai. Di dalam
keindahan-Mu aku belajar menulis puisi. Kau senantiasa
menari di dalam hatiku, meski tak seorang pun melihat-
Mu, dan terkadang aku pun ikut menari bersama-Mu.
Dan “Penglihatan Agung” inilah yang menjadi inti dari
seniku.

3
Hakikat Yang Maha Pengasih hadir secara langsung
laksana sinar matahari yang menerangi bumi. Namun,
kasih-Nya tidaklah berasal dari berbagai bentuk yang ada
di bumi. Kasih-Nya melampaui setiap bentuk yang ada di
bumi, sebab bumi ini dan segala isinya tercipta sebagai
perwujudan dari kasih-Nya.

4
Jika kau ingin melihat wajah-Nya, maka tengoklah pada
wajah sahabatmu tercinta.

5
Sekian lama aku berteriak memanggil nama-Mu sambil
terus-menerus mengetuk pintu rumah-Mu. Ketika pintu
itu terbuka, aku pun terhenyak dan mulai menyadari
sesungguhnya selama ini aku telah mengetuk pintu dari
dalam rumahku sendiri.

6
Demi Allah, ketika kau melihat Jatidirimu sebagai Yang
Maha Indah, maka kau pun akan menjadi menyembah dirimu
sendiri

7
Karena Cinta segalanya menjadi ada. Dan hanya karena
Cinta pula, maka ketiadaan nampak sebagai keberadaan.

8
Pada Hari Kebangkitan, orang-orang akan berjalan
sempoyongan. Di depan-Mu, mereka akan menggigil
dengan wajah pucat karena ketakutan. Maka, aku akan
memeluk kasih-Mu dan berkata kepada mereka: “Mintalah
apa pun; mintalah atas namaku.”

9
Aku ingin melihat wajah-Mu pada sebatang pohon, pada
matahari pagi, dan pada langit yang tanpa warna.

10
Ketika aku mati sebagai manusia, maka para malaikat
akan datang dan mengajakku terbang ke langit tertinggi.
Dan ketika aku mati sebagai malaikat, maka siapa yang
akan mendatangiku? Kau tak akan pernah dapat
membayangkannya!

11
Diamlah! Cinta adalah sebutir permata yang tak bisa
kaulemparkan sembarangan seperti sebutir batu.

12
“Mintalah sesuatu kepada-Ku,” begitu Kau berkata suatu
ketika. Aku tertawa dan berkata: “Aku telah cukup
bersama-Mu. Tanpa kehadiran-Mu, seluruh dunia ini
hanyalah sebatang kayu yang mengapung dan
terombang-ambing di samudera-Mu.”

13
Yakinlah, di Jalan-Cinta itu: Tuhan akan selalu bersama-Mu.

14
Sufi adalah seorang lelaki atau seorang perempuan yang
Telah patah hati terhadap dunia.

15
Segalanya yang kau lihat mempunyai akarnya di dalam
dunia yang tak terlihat. Bentuk akan berubah, namun
intisarinya tetaplah sama.

16
Ketika sedih, aku bersinar bagaikan bintang pagi. Ketika
patah hati, hakekatku justru tersingkap sendiri. Ketika aku
diam dan tenang seperti bumi, tangisku bagaikan guntur
yang menggigilkan surga di langit tertinggi.

17
Aku tidak tahu siapa sebenarnya “Aku”. Tetapi, ketika
aku berjalan ke dalam diriku sendiri, maka aku pun
terkejut: ternyata “Aku” adalah suara milik-Mu, gema
yang terpantul dari “Dinding-Keilahian”.

18
Setiap orang yang tinggal jauh dari sumber-Nya, dari
Jatidirinya, maka ia akan selalu rindu untuk kembali ke
masa ketika ia masih dipersatukan dengan-Nya.

19
Ketika kami mati, jangan cari pusara kami di bumi. Tetapi,
temukan di dalam hati para pecinta.

20
Kematianku adalah perkawinanku dengan keabadian.